detikcom

Berita Terbaru

Indeks Berita

Forum I-Net

Pro Kontra

Gb
Tak ada yang menampik soal pesona dan performa iPhone 4S. Sayang, ketika masuk Indonesia, harga gadget Apple itu dibanderol cukup tinggi, dengan versi termurah di kisaran Rp 7 jutaan. Apakah harga itu pantas?
  • KONTRA Muhammad Iqbal Annur  ″JELAS MAHAL LAH HANDPHONE GA DIBAWA MATI MENDING BUAT AMAL BUAT KEPERLUAN ? MASIH BANYAK UNTUK KELAS RAKYAT.. ″
  • KONTRA Wemphy  ″Wajar mahal soalnya di indo banyak yg ababil!.. ″
26%   74% 

Selengkapnya


Jumat, 03/09/2010 08:09 WIB

Perang Tarif Masih Jadi Andalan Operator
Andrian Fauzi - detikinet


ilustrasi (rou/inet)

Jakarta - Perang tarif masih menjadi andalan operator dalam upayanya menggaet pelanggan. Strategi usang ini diprediksi masih akan terus berlangsung hingga tahun 2011 mendatang.

Demikian diungkapkan Vice President XL Central Region, Kencono Wibowo usai meresmikan XL Mangkal Mudik Rame di tempat peristirahatan, Desa Karang Anyar, Kecamatan Pusaka Jaya, Kabupaten Subang, Bandung.

Menurut Kencono, tiga operator teratas saat ini memiliki kualitas dan jangkauan yang nyaris setara. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh pihaknya, alasan terkuat konsumen dalam memilih operator seluler adalah tarif, kualitas, dan jangkauan. Hal ini yang menyebabkan tiga besar operator ini memakai tarif sebagai alat jualan.

"Dengan kondisi ini, tinggal inovasi tarif yang menjadi celah dan di sini lah kekuatan XL. Kami bermain dengan persepsi, di mana pelanggan merasa nyaman. Nyaman saat menggunakan layanan kami yang menawarkan tarif murah," ujarnya kepada detikINET, Kamis malam (2/9/2010).

Pak Wok, demikian pria ini akrab dipanggil menambahkan bahwa pengaruh tarif sangat luar biasa terhadap peningkatan subcriber. Hal ini terlihat dari imbas promosi tarif telepon Rp 25 per menit yang baru-baru ini diberlakukan oleh XL.

"Dalam tempo satu minggu sejak peluncuran, jumlah subcriber akuisisi XL Central Region naik hingga 40 persen, dari 70.000 per hari menjadi 90.000 per hari," ujarnya.

Pun demikian, Pak Wok mengaku bahwa perang tarif bukanlah sesuatu strategi yang tanpa konsekuensi. Pasalnya, saat menurunkan tarif, jumlah pelanggan meningkat drastis. Hal ini harus diimbangi dengan peningkatan kualitas jaringan yang dimilikinya demi menjaga pelanggannya.

"Kita serius dalam melakukan investasi. Walaupun secara revenue kita masih kalah jauh dengan market leader. Tapi trafik yang dipakai justru lebih tinggi ketimbang market leader. Ini konsekuensi untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi pelanggan kami," ungkapnya.

Jumlah pelanggan XL di Central Region kini mencapai 11,3 juta, meningkat dari akhir tahun lalu 8,6 juta. Central Region menyumbang hampir sepertiga dari total 35,2 juta secara nasional yang dilayani jumlah infrastruktur BTS 21.000 unit.

 

( afz / rou )

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

Share



Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com

Rekomendasi Artikel