detikcom

Berita Terbaru

Indeks Berita

Forum I-Net

Pro Kontra

Gb
Tak ada yang menampik soal pesona dan performa iPhone 4S. Sayang, ketika masuk Indonesia, harga gadget Apple itu dibanderol cukup tinggi, dengan versi termurah di kisaran Rp 7 jutaan. Apakah harga itu pantas?
  • KONTRA andre4s  ″knpa hrs bli yg mhl2? L0k da yg murah n lbh \"berkualitas\"!.. ″
  • KONTRA Adie  ″Terlaaaaluuuuuu. Fitur lumayan, but buat gue mendingan Beli galaxi slim dapet 2... ″
26%   74% 

Selengkapnya


Jumat, 27/08/2010 10:29 WIB

Indosat Hadapi Utang Jatuh Tempo Rp 2,181 Triliun di 2011
Whery Enggo Prayogi - detikinet


Jakarta - Setelah membayar US$ 230 juta tahun ini, PT Indosat Tbk (ISAT) masih punya kewajiban melunasi utang sebesar Rp 2,181 triliun yang jatuh tempo di 2011. Perseroan memiliki opsi perpanjangan jatuh tempo.

Menurut Group Head Investor Relation ISAT, Nicholas Swierzy, beban utang yang wajib dibayar perseroan terdiri dari mata uang rupiah sebesar Rp 2,16 triliun, sementara sisanya berdominasi dollar Amerika Serikat (AS) sebesar US$ 2,42 juta, atau setara Rp 21,98 miliar dengan acuan Rp 9.085 per dollar AS. Totalnya sekitar Rp 2,181 triliun.

Nicholas pun menegaskan, utang tersebut bakal perseroan bayarkan tepat pada waktunya. ISAT juga masih mempunyai kesempatan untuk merestrukturisasi utang tersebut melalui perpanjangan waktu pinjaman.

"Ada bank-bank juga siap bantu kita untuk pelunasan utang tersebut," ungkap Nicholas di kantornya gedung Indosat, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta.

Sementara itu, tahun 2012 perseroan juga memiliki utang jatuh tempo yang lebih besar, yaitu sebanyak Rp 2,698 triliun. Dimana sebanyak Rp 2,68 triliun dalam mata uang rupiah, sisanya Rp 18,62 miliar (US$ 2,05 juta).

Pada periode Januari hingga Juni 2010, ISAT mencatat pertumbuhan pendapatan 5,8% menjadi Rp 9,661 triliun dari periode yang sama tahun 2009 Rp 9,135 triliun. Pendapatan dari selular sebesar Rp 7,678 triliun, naik 14,4% dari sebelumnya Rp 6,710 triliun.

Namun sayang, naiknya pendapatan tidak diikuti dengan prestasi pada pos laba bersih. Laba bersih ISAT justru anjlok 71,5% menjadi Rp 287,1 miliar dari sebelumnya Rp 1,007 triliun.

Presiden Direktur ISAT, Harry Sasongko menyebut, penurunan laba ini lebih diakibatkan faktor exchange rate. Dimana perseroan menduga rate rupiah terhadap dollar naik, namun yang terjadi justru sebaliknya.

"Laba turun karena rupiah yang menguat dan ada market derivatif hedging (perlindungan nilai)," kata Harry.

"Indosat telah mulai menyeimbangkan pertumbuhan pelanggan dengan peningkatan basis pelanggan yang berkualitas dan mengurangi pelanggan calling card. Jadi kita tidak lagi volume strategy tapi value strategy," imbuhnya.

( wep / eno )

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

Share



Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com

Rekomendasi Artikel