detikcom

Berita Terbaru

Indeks Berita

Forum I-Net

Pro Kontra

Gb
Tak ada yang menampik soal pesona dan performa iPhone 4S. Sayang, ketika masuk Indonesia, harga gadget Apple itu dibanderol cukup tinggi, dengan versi termurah di kisaran Rp 7 jutaan. Apakah harga itu pantas?
  • KONTRA Muhammad Iqbal Annur  ″JELAS MAHAL LAH HANDPHONE GA DIBAWA MATI MENDING BUAT AMAL BUAT KEPERLUAN ? MASIH BANYAK UNTUK KELAS RAKYAT.. ″
  • KONTRA Wemphy  ″Wajar mahal soalnya di indo banyak yg ababil!.. ″
26%   74% 

Selengkapnya


Rabu, 05/05/2010 17:22 WIB

'Nomor Identitas Nasional Mampu Kurangi Biaya Kesehatan'
Andrian Fauzi - detikinet


Ilustrasi (Ist.)

Jakarta - Bukan tanpa alasan Jepang menerapkan nomor identitas nasional. Kebijakan yang baru diterapkan pada tahun 2010 ini rupanya untuk mengurangi biaya kesehatan masyarakatnya. Loh kok bisa?

Seperti dikatakan oleh Division Manager Hitachi, Takashi Kai dalam sesi presentasinya di acara e-Indonesian Initiative V di Aula Timur ITB, Rabu (5/5/2010). Selama ini biaya kesehatan masyarakat Jepang cukup besar tiap tahunnya.

"Pada tahun 2004, pemerintah Jepang mengucurkan dana sebesar 32,1 trilyun yen. Dan sekarang sudah dua kali lipatnya," paparnya.

Dana jaminan sosial ini, lanjur Kai, kebanyakan dipergunakan oleh masyarakat berusia lanjut. Lalu kaitannya dengan nomer identitas nasional, Kai mengatakan bahwa dengan adanya intergrasi antara instansi pemerintah dengan instansi kesehatan, maka masyarakat bisa mengontrol kesehatannya. Sehingga dana jaminan kesehatan yang dikucurkan akan berkurang.

"Bagaimana informasi ini bisa disharing? Dengan nomer identitas nasional, semua data milik masyarakat tercatat. Termasuk riwayat kesehatannya. Dan data ini yang kemudian akan disambungkan ke data kesehatan. Sehingga masyarakat bisa memantau kesehatannya," kata dia menjelaskan.

Kai mencontohkan program e-Health yang sudah diterapkan di Jepang. Dalam program yang bernama HALSMA Diet, masyarakat bisa memonitor kesehatannya. Riwayat
kesehatannya yang selama ini tercecer di banyak tempat, bisa terkumpul dan diakses sendiri.

"Selama ini data kesehatan selalu tercecer. Di rumah sakit A, dokter B dan dimana-mana. Dengan adanya ini, kita bisa dengan mudah mengetahui riwayat kesehatan kita. Tapi kayaknya program diet ini tidak cocok buat Indonesia. Karena saya lihat orang Indonesia tubuhnya kurus-kurus. Tidak seperti di negara-negara maju macam Jepang, Amerika dan lainnya yang tambun-tambun," katanya berseloroh.

Jepang sendiri baru akan memulai mengimplementasikan e-Goverment pada tahun ini. Padahal infrastrukturnya sediri sudah dibangun sejak tahun 2001.
( afz / ash )

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

Share


Berita Terpopuler


Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com

Rekomendasi Artikel