Berita Terbaru
-
Selasa, 07/02/2012 16:56 WIB
Foto yang Dihapus di Facebook Tidak Benar-benar Lenyap -
Selasa, 07/02/2012 14:23 WIB
Kolom Telematika
Teknologi Cloud, Apakah Membantu? -
Selasa, 07/02/2012 14:10 WIB
Ditutup, MegaUpload Banjir Dukungan -
Selasa, 07/02/2012 13:24 WIB
8 Sosok Bertalenta di Dunia Teknologi -
Selasa, 07/02/2012 13:02 WIB
Idenesia, 'YouTube' Lokal yang Menampung Film Inspiratif -
Selasa, 07/02/2012 12:16 WIB
Profesor Italia Coba Menantang Google
Indeks Berita
Forum I-Net
Thread Pilihan

Selasa, 07/02/2012 14:30 WIB
Inilah 8 Sosok Bertalenta di Dunia Teknologi
Posted : radydjencolePro Kontra
- KONTRA Muhammad Iqbal Annur ″JELAS MAHAL LAH HANDPHONE GA DIBAWA MATI MENDING BUAT AMAL BUAT KEPERLUAN ? MASIH BANYAK UNTUK KELAS RAKYAT.. ″
- KONTRA Wemphy ″Wajar mahal soalnya di indo banyak yg ababil!.. ″
26%
74%
Selengkapnya
Studio Animasi Masih Enggan Migrasi ke Blender
Andrian Fauzi - detikinet
Blender (Ist.)
Alasan tidak biasa menjadi alasan klasik enggannya penggiat industri animasi untuk hijrah ke software open source. Padahal antara Blender dengan software sejenis seperti Maya, 3D Max ataupun yang lainnya tidak jauh berbeda. Toolsnya pun mirip.
"Masalahnya mereka sudah nyaman dan terbiasa dengan aplikasi berbayar. Padahal pengoperasiannya hampir sama," kata Ferie Budiasyah, Manager Program Tunas Indonesia Kratif (TIK) saat berbincang dengan detikINET.
Blender tidak bisa dianggap remeh. Mulai dari pemodelan 3D, rendering, shading, animasi 3D, sampai pembuatan game 3D secara utuh bisa dilakukan oleh Blender.
"Dan gratis. Bandingkan dengan yang berbayar. Minimal kita harus beli softwarenya senilai US$ 3.000 untuk satu komputer. Sedangkan membuat animasi tidak bisa dilakukan di satu komputer. Bisa dihitung sendiri berapa banyak uang yang bisa dihemat," ungkapnya.
Di Bandung ada sekitar 8 studio animasi besar yang masih beroperasi. Baru 2 studio yang migrasi ke Blender untuk memproduksi animasi.
"Sebut saja Kojo atau Acintya. Mereka masih menggunakan Maya untuk memproduksi animasi. Agak susah untuk pindah karena kebiasaan. Padahal penggunaannya hampir sama," katanya.
Ferie menambahkan, seharusnya penggunaan open source diperkenalkan sejak dini. Karena penggunaan software lebih pada kebiasaan semata. Jika sudah terbiasa maka enggan untuk migrasi ke software lainnya.
"Harusnya dari sekolah sudah diperkenalkan open source. Jangan dicekoki software yang berbayar. Karena sebenarnya mereka enggan karena tidak terbiasa. Nah kalau sudah terbiasa sejak sekolah, maka saat mereka terjun secara profesional sudah
menguasai, minimal terbiasa dengan open source," tukasnya.
Sebagai pembuktian, rencananya TIK bersama dengan Regional IT Center of Excellence (RICE) PT Inti akan membuat film animasi yang bersetting peristiwa Bandung Lautan Api.
"Kita juga bisa membuat film animasi dengan menggunakan open source. Targetnya bulan Agustus tahun depan bisa terealisasi," harapnya.
( afz / ash )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca Juga :
Berita Terpopuler
- Rabu, 08/02/2012 11:29
Mengintip Tes Daya Tahan yang Dijalani BlackBerry - Rabu, 08/02/2012 10:50
4 Petinggi Yahoo Mundur 'Berjamaah' - Rabu, 08/02/2012 07:57
Nokia Digugat Perusahaan Thailand - Selasa, 07/02/2012 16:04
Hati-hati dengan 'Dompet' BlackBerry 9900 - Selasa, 07/02/2012 14:58
Ini Dia Ponsel yang Paling Kuat di Suhu Beku
Komentar Terpopuler
- Rabu, 01/02/2012 14:37 WIB
Pantaskah iPhone 4S Dihargai Tinggi? - Minggu, 05/02/2012 13:48 WIB
Pemerintah & Militer AS Siap Pakai Smartphone Android - Kamis, 02/02/2012 18:51 WIB
Dirut Telkomsel: Tudingan Pedagang Pulsa Salah Alamat - Senin, 06/02/2012 11:58 WIB
Studi: Aplikasi iOS Sering Crash Dibanding Android - Rabu, 01/02/2012 13:14 WIB
6 Alasan Pebisnis Tinggalkan BlackBerry
Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Rekomendasi Artikel
- Amir Syamsuddin Diplot Jadi Anggota Dewan Pembina PD
- Fahri: Ruhut Harus Hormati Teguran BK & Bereskan Rumah Tangganya





Sending your message


---125x125.gif)
