detikcom

Berita Terbaru

Indeks Berita

Forum I-Net

Pro Kontra

Gb
Tak ada yang menampik soal pesona dan performa iPhone 4S. Sayang, ketika masuk Indonesia, harga gadget Apple itu dibanderol cukup tinggi, dengan versi termurah di kisaran Rp 7 jutaan. Apakah harga itu pantas?
  • KONTRA Wemphy  ″Wajar mahal soalnya di indo banyak yg ababil!.. ″
  • PRO Ibnu Qosim New Innovation  ″semua itu pantas2 saja sekalipun harganya mahal, wonk nyatanya aja laris ko di indo.... He he he....... ″
26%   74% 

Selengkapnya


Selasa, 09/03/2010 18:42 WIB

Biaya Mahal, Ponsel China Enggan Bikin Service Center
Andrian Fauzi - detikinet


Edmundus Leonard (afz/inet)

Jakarta - Keberadaan service center akan membuat konsumen lebih nyaman dalam menggunakan suatu produk. Tapi sayang, tingginya biaya investasi untuk membangun service center membuat sekitar 90 persen dari 90 merk ponsel Cina yang kini beredar di Indonesia tidak memiliki service centre.

Menurut General Manager PT CSL Indonesia, Edmundus Leonard, investasi pendirian service centre bisa menghabiskan biaya ratusan juta rupiah. Tak hanya itu biaya operasionalnya tiap bulan juga cukup besar. Ini yang dihindari oleh banyak pelaku bisnis ponsel Cina di Indonesia.

"Biaya operasionalnya saja bisa mencapai Rp 20 juta-Rp 30 juta per hari. Untuk buat satu service center itu sampai ratusan juta," ujarnya kepada detikINET, Selasa (9/3/2010).

Padahal, menurut dia, keberadaan service centre menjadi jaminan keberlanjutan bisnis ponsel. Di Kota Bandung sendiri sejauh ini CLS baru melengkapi dengan service centre outsourcing. Rencananya, menurut Edmundus, service centre CSL di Bandung baru berdiri bulan depan.

"Ya bukan berarti mereka tidak mau membuat service center. Tapi mereka memanfaatkan pihak ketiga untuk mengelolanya. Karena lebih murah," tukasnya.

Edmundus menambahkan, sebagian besar pelaku bisnis ponsel Cina mengambil strategi pasar hit and run. Pelaku bisnis yang seperti ini diyakini oleh Leo, demikian pria ini akrab dipanggil, tidak akan langgeng.

"Mereka tidak mau berinvestasi besar karena visinya hanya jangka pendek. Karena mereka hanya melihat dari sisi profit semata. Kalau masih menguntungkan dan harganya masuk mereka tetap berjualan. Jika tidak, mereka banting setir,"ungkapnya.

Hal ini wajar saja, pasalnya para pelaku bisnis ponsel Cina ini sangat sedikit yang dasarnya benar-benar pemain ponsel. Kebanyakan justru di luar bisnis ponsel.

"Kebanyakan bukan orang ponsel. Mereka murni bisnis. Melihat ada peluang mereka main. Sudah tidak untung mereka tinggalkan atau buat merek baru lagi," tandas Leo.
( afz / faw )

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

Share


Berita Terpopuler

Komentar Terpopuler


Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com

Rekomendasi Artikel