Berita Terbaru
-
Rabu, 08/02/2012 07:57 WIB
Nokia Digugat Perusahaan Thailand -
Selasa, 07/02/2012 17:36 WIB
Menanti Instagram di Android -
Selasa, 07/02/2012 16:24 WIB
Telat Hadir, Ultrabook HP Folio Punya Racikan Khusus -
Selasa, 07/02/2012 16:04 WIB
Hati-hati dengan 'Dompet' BlackBerry 9900 -
Selasa, 07/02/2012 14:58 WIB
Ini Dia Ponsel yang Paling Kuat di Suhu Beku -
Selasa, 07/02/2012 13:34 WIB
Folio, Ultrabook HP yang Diklaim Paling Irit
Indeks Berita
Forum I-Net
Thread Pilihan

Selasa, 07/02/2012 14:30 WIB
Inilah 8 Sosok Bertalenta di Dunia Teknologi
Posted : radydjencolePro Kontra
- KONTRA Wemphy ″Wajar mahal soalnya di indo banyak yg ababil!.. ″
- PRO Ibnu Qosim New Innovation ″semua itu pantas2 saja sekalipun harganya mahal, wonk nyatanya aja laris ko di indo.... He he he....... ″
26%
74%
Selengkapnya
Biaya Mahal, Ponsel China Enggan Bikin Service Center
Andrian Fauzi - detikinet
Edmundus Leonard (afz/inet)
Menurut General Manager PT CSL Indonesia, Edmundus Leonard, investasi pendirian service centre bisa menghabiskan biaya ratusan juta rupiah. Tak hanya itu biaya operasionalnya tiap bulan juga cukup besar. Ini yang dihindari oleh banyak pelaku bisnis ponsel Cina di Indonesia.
"Biaya operasionalnya saja bisa mencapai Rp 20 juta-Rp 30 juta per hari. Untuk buat satu service center itu sampai ratusan juta," ujarnya kepada detikINET, Selasa (9/3/2010).
Padahal, menurut dia, keberadaan service centre menjadi jaminan keberlanjutan bisnis ponsel. Di Kota Bandung sendiri sejauh ini CLS baru melengkapi dengan service centre outsourcing. Rencananya, menurut Edmundus, service centre CSL di Bandung baru berdiri bulan depan.
"Ya bukan berarti mereka tidak mau membuat service center. Tapi mereka memanfaatkan pihak ketiga untuk mengelolanya. Karena lebih murah," tukasnya.
Edmundus menambahkan, sebagian besar pelaku bisnis ponsel Cina mengambil strategi pasar hit and run. Pelaku bisnis yang seperti ini diyakini oleh Leo, demikian pria ini akrab dipanggil, tidak akan langgeng.
"Mereka tidak mau berinvestasi besar karena visinya hanya jangka pendek. Karena mereka hanya melihat dari sisi profit semata. Kalau masih menguntungkan dan harganya masuk mereka tetap berjualan. Jika tidak, mereka banting setir,"ungkapnya.
Hal ini wajar saja, pasalnya para pelaku bisnis ponsel Cina ini sangat sedikit yang dasarnya benar-benar pemain ponsel. Kebanyakan justru di luar bisnis ponsel.
"Kebanyakan bukan orang ponsel. Mereka murni bisnis. Melihat ada peluang mereka main. Sudah tidak untung mereka tinggalkan atau buat merek baru lagi," tandas Leo.
( afz / faw )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca Juga :
Berita Terpopuler
- Rabu, 08/02/2012 07:57
Nokia Digugat Perusahaan Thailand - Selasa, 07/02/2012 16:04
Hati-hati dengan 'Dompet' BlackBerry 9900 - Selasa, 07/02/2012 14:58
Ini Dia Ponsel yang Paling Kuat di Suhu Beku - Selasa, 07/02/2012 18:54
Google Ciptakan Kacamata 'Terminator'? - Selasa, 07/02/2012 17:36
Menanti Instagram di Android
Komentar Terpopuler
- Rabu, 01/02/2012 14:37 WIB
Pantaskah iPhone 4S Dihargai Tinggi? - Minggu, 05/02/2012 13:48 WIB
Pemerintah & Militer AS Siap Pakai Smartphone Android - Kamis, 02/02/2012 18:51 WIB
Dirut Telkomsel: Tudingan Pedagang Pulsa Salah Alamat - Senin, 06/02/2012 11:58 WIB
Studi: Aplikasi iOS Sering Crash Dibanding Android - Minggu, 05/02/2012 16:48 WIB
Motorola Minta Jatah Penjualan iPhone
Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Rekomendasi Artikel
- Pimpinan DPR & BK Sepakat Minta KPK Usut Proyek Ruang Banggar Rp 20 M
- Anggota Komisi III: Ketua MA Baru Harus Tingkatkan Access To Justice





Sending your message


---125x125.gif)
