Berita Terbaru
-
Jumat, 10/02/2012 18:10 WIB
Google Ciptakan Sistem Home Entertainment -
Jumat, 10/02/2012 08:02 WIB
Duh, Putus Pertemanan di Facebook Berujung Pembunuhan -
Jumat, 10/02/2012 07:04 WIB
Google Chrome 17 Tampil Lebih Ngebut -
Kamis, 09/02/2012 18:53 WIB
Ini Dia 10 Finalis Do Network Lenovo -
Kamis, 09/02/2012 13:08 WIB
Berharap Lahirnya Mark Zuckerberg 'Made in Indonesia' -
Kamis, 09/02/2012 11:18 WIB
Diancam Mau Didemo, Apple Tegaskan Peduli Nasib Buruh
Indeks Berita
Forum I-Net
Pro Kontra
- PRO suryanto-reckitt ″iphone adalah iphone,,^!!.. ″
- KONTRA Bjodjojo Séptìäñö Lìü ″Gak pantas banget.. ″
28%
72%
Selengkapnya
WOSOC 2008
Enaknya Jadi Pengembang Software Nokia
Achmad Rouzni Noor II - detikinet
Ariya Hidayat (rou/inet)
Setidaknya demikian menurut Ariya Hidayat, Software Engineer Nokia yang sehari-harinya bermarkas di Oslo, Norwegia.
"Di Nokia, kami diberi kebebasan penuh untuk berekspresi," kata pria lulusan ITB dan University of Paderborn, Jerman, ini kepada detikINET di sela WOSOC 2008 di Hotel Dynasty, Bali, Rabu (3/12/2008).
Dalam kapasitasnya sebagai pemrogram open source Qt Software di Nokia, Ariya tidak pernah merasa kesukaannya akan suatu platform dibatasi perusahaannya. Bahkan, Nokia pun tak pernah mempermasalahkan kekurangsukaan pegawainya atas ponsel Nokia itu sendiri.
"Saya sehari-hari pakai iPhone meski dari kantor dapat jatah E61. Nggak masalah kok. Kantor tahu saya tidak suka sama ponsel ini," ujarnya.
Sebagai pegawai Nokia, Ariya juga terang-terangan suka dengan platform Android yang tengah dikembangkan Google. Bahkan, akunya, bos Nokia rela membelikannya ponsel G1 T-Mobile untuk sekadar jadi bahan presentasi Nokia.
"Tidak menutup kemungkinan nantinya Nokia akan kerjasama dengan Google untuk menyediakan layanan. Sebab, yang jadi nilai jual Nokia sekarang bukan cuma handset saja, tapi layanan. Misalnya, Nokia 5800 yang menggratiskan download lagu setahun penuh. Nah, value-nya dari situ. Sekarang, handset yang dijual hampir tak ada harganya lagi," papar pemilik gelar Doktor ini.
Mental Defensif
Kantor Nokia hampir mirip dengan kantor Google, mulai dari pingpong, Atari, sampai Nintendo Wii, ada. Kami juga dibebaskan soal absensi, yang penting result oriented," jelasnya.
Nah, kebiasaan kultur terbuka itulah yang kemudian membuat para pengembang software Nokia di Oslo akhirnya jadi punya kebebasan berekspresi, tak hanya terpatok pada satu platform tertentu, baik open source maupun proprietary.
Ariya sendiri sempat merasakan reverse culture shock setelah lama tak kembali ke Indonesia. Sebab, perusahaan pengembang dan software engineer lokal, menurutnya, terlalu mental defensif dan terikat pada suatu produk.
"Padahal seharusnya jangan begitu. Mental defensif harus ditinggalkan kalau mau maju," pungkas Ariya.
Liputan detikINET di ajang SITIS 2008 terselenggara dengan kerjasama dari Universitas Gunadarma.
( rou / dwn )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca Juga :
Berita Terpopuler
- Sabtu, 11/02/2012 08:46
Olympus: Smartphone Tak Bisa Geser Kamera Compact - Jumat, 10/02/2012 19:05
Membludak, Pemesanan Nikon D800 Dihentikan - Jumat, 10/02/2012 17:17
LG: BlackBerry Hanya Mengandalkan BBM - Jumat, 10/02/2012 19:26
Ilmuwan Jepang Ciptakan Robot 'Avatar' - Jumat, 10/02/2012 11:27
Inikah Bocoran Tampilan iPad 3?
Komentar Terpopuler
- Minggu, 05/02/2012 13:48 WIB
Pemerintah & Militer AS Siap Pakai Smartphone Android - Senin, 06/02/2012 11:58 WIB
Studi: Aplikasi iOS Sering Crash Dibanding Android - Minggu, 05/02/2012 16:48 WIB
Motorola Minta Jatah Penjualan iPhone - Selasa, 07/02/2012 14:58 WIB
Ini Dia Ponsel yang Paling Kuat di Suhu Beku - Selasa, 07/02/2012 09:36 WIB
Pekerja Pabrik iPad Belum Pernah Melihat iPad
Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Rekomendasi Artikel
- Sekjen PBB: Indonesia Berperan Penting dalam Isu Perubahan Iklim
- KPK Ekspose Kasus Century Hingga Tengah Malam






Sending your message


---125x125.gif)
