detikInet's Community
Berita Lain
-
Jumat, 19/03/2010 19:16 WIB
SkyBee Berharap Laku 600 Ribu Ponsel -
Jumat, 19/03/2010 17:08 WIB
Laptop Game Asus Tiru Pesawat Stealth Fighter -
Jumat, 19/03/2010 16:38 WIB
Komputer Tablet Rp 900 Ribuan, Mau? -
Jumat, 19/03/2010 14:55 WIB
Google Gagal Miliki Hak Cipta Nexus One -
Jumat, 19/03/2010 13:27 WIB
Fokus di HD, Canon Tak Melupakan SD -
Jumat, 19/03/2010 10:28 WIB
Nokia X6 Disokong Oleh 3 Juta Lagu
Indeks Berita
Selasa, 18/11/2008 12:52 WIB
Menristek Tangkal Mitos Seputar Open Source
Ardhi Suryadhi - detikinet

Kusmayanto Kadiman (inet)
Dalam konferensi open source se-Asia Afrika yang resmi dibuka hari ini, Menristek mengatakan ada tiga mitos negatif yang beredar di kalangan pengguna komputer hingga mengurungkan niat mereka bermigrasi ke open source.
Pertama adalah karena open source dianggap hanya layak digunakan para pakar teknologi informasi (TI) saja. "Open source bukan untuk pakar TI, kita semua juga bisa memakainya," tandas Kusmayanto, di Auditorium Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Selasa (18/11/2008).
Kedua, lanjut Kusmayanto, kalangan pebisnis masih banyak yang mempertanyakan apa keuntungan bagi mereka jika bermigrasi ke open source.
Mitos ketiga yang juga sering dipertanyakan adalah masih banyak yang pesimistis soal dukungan yang diberikan open source, seperti tersedianya aplikasi dan hardware pendukung dan lainnya.
"Ini yang biasanya dikeluhkan masyawakat umum, tapi open source sudah memiliki interoperability dengan software lain," katanya lagi.
Pemerintah Indonesia sendiri sudah meluncurkan program Indonesia go Open Source (IGOS). Program ini diharapkan dapat mengubah persepsi masyarakat untuk berani beralih ke software berbasis open source.
Namun program IGOS ternyata tidak berjalan semudah yang dibayangkan karena sulit mengubah kebiasaan orang. "Ada yang menolak, ada yang masih wait and see, ada yang sebelum menggunakan bertanya dulu apa keuntungannya", jelas Kusmayanto.
Ristek kemudian mengambil sikap dengan menggunakan prinsip iron hand atau tangan besi (sedikit dipaksa-red) untuk menggalakkan open source di instansi tersebut. Namun Kusmayanto menegaskan, iron hand yang digunakan lebih diperhalus. ( dwn / dwn )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (8 Komentar)
Baca juga:
Klik di sini:
Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Vita di vita@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.525).
Informasi pemasangan iklan
hubungi Vita di vita@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.525).






