detikcom

Berita Terbaru

Indeks Berita

Forum I-Net

Pro Kontra

Gb
Tak ada yang menampik soal pesona dan performa iPhone 4S. Sayang, ketika masuk Indonesia, harga gadget Apple itu dibanderol cukup tinggi, dengan versi termurah di kisaran Rp 7 jutaan. Apakah harga itu pantas?
  • KONTRA Bjodjojo Séptìäñö Lìü  ″Gak pantas banget.. ″
  • PRO Renata Siti  ″Pantas2 saja.... Mahal relatif... Yang kontra itu yang gak sanggup beli pastinya... Segala alasan negatif di cari2 hanya dan hanya untuk menenangkan.. ″
28%   72% 

Selengkapnya


Selasa, 05/08/2008 18:01 WIB

Industri Ringback Tone Lebih Menjanjikan
Achmad Rouzni Noor II - detikinet


Ilustrasi (ist.)

Jakarta - Industri ringback tone (RBT) dinilai lebih menjanjikan dibandingkan industri musik konvensional. Sebab, pendapatan dari layanan nada sambung pribadi itu jauh membumbung di atas hasil penjualan keping lagu dan kaset.

Menurut Wakil Dirut Pemasaran Bakrie Telecom, Erik Meijer, lagu RBT yang dipakai sebagai nada sambung pribadi oleh pelanggan telepon bisa mencapai tujuh juta aktivasi setiap bulannya.

"Bagi operator telekomunikasi, kontribusi revenue dari RBT memang tidak lebih dari lima persen. Namun bagi industri rekaman, kontribusinya lebih dari lima puluh persen," ujarnya di sela peluncuran program RBT Esia, di Amadeus, Setiabudi One, Jakarta, Selasa (5/8/2008).

Hal itu diamini Shanti, penyanyi yang kini mengandalkan RBT untuk mendulang pundi pendapatannya. "RBT betul-betul jadi bisnis menjanjikan bagi industri rekaman. Kalau dibandingkan penjualan CD atau kaset secara konvensional, RBT memang lebih baik dari segi pemasukan," selorohnya.

Erik juga menambahkan, RBT kini menjadi salah satu jalan keluar untuk mengeliminir tingkat pembajakan di industri musik. Menurutnya, pemasaran industri rekaman secara konvensional cuma laku menjual 4% dari total distribusi. "Nah, untuk menyiasati penyusutan penjualan konvensional, RBT kini jadi alternatif yang lebih menjanjikan."

Lokal Berjaya

Bicara konten lagu RBT yang laku di pasaran, kata Erik, kebanyakan masih seputar lagu lokal. Sementara lagu internasional dianggap kurang laku karena mekanisme kerjasama antara industri rekaman internasional dan operator telekomunikasi sulit dijalin.

"Mereka rewel," keluh Erik. Alasannya, kata dia, pasar RBT di Indonesia tidak dianggap potensial. "itu sebabnya mereka enggan bekerjasama dengan kita," demikian tandasnya.


Anda punya uneg-uneg dan pendapat tentang layanan Esia? Gabung yuk di detikINET Forum.
( rou / dwn )

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

Share


Komentar Terpopuler


Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com

Rekomendasi Artikel